Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2015

Dialog Romantis

CERMIN
AR

"Pah, besok beliin mamah cermin baru, ya!"

"Lha, itu kan cermin, Mah."

"Mamah ga percaya sama cermin itu, Pah."

"Ga percaya gimana, Mah?"

"Ga percaya bahwa mamah pantas mandampingi papah yang gantengnya selangit."

"Sun aaaahhhh."

Muuuaaahh

***


BA'DA LIBUR KE BALI
AR

"Gimana liburannya, Mah ..., Mamah senang?"

"Dibilang senang ya iyaa ... ga senang pun iya."

"Kok begitu ..., senangnya?"

"Mamah senang karena ternyata cowok-cowok bule yang terkenal ganteng, belum ada apa-apanya sama papah."

"Ahh, mamah bisa aja ... ndak senangnya kenapa?"

"Matamu tu lho, jelalatan terus ngeliatin yang toples-toples. Pokoknya seminggu ini papah tidur di luar titik."

"Jangan gitu dong, Mah ... Mah ... Mah ...."

Ngggeeeeek praakkkk, pintu kamar terhempas.

***

Jumat, 30 Oktober 2015

Ijnkan Aku Menikah Lagi

Ijinkan Aku Menikah Lagi


"Kalau selalu begini Abang mau beristeri lagi aja, Dek." Sontak isteriku yang sedang memasak kaget menerima pernyataanku.

"Apa ...? Abang jangan macam-macam ya!" ancamnya sambil mencincang-cincang sebuah terong dengan pisau dapur yang terlihat lebih tajam dari biasanya.

"Tapi Abang ga tahan kalau selalu begini."

"Maksud Abang apa?" Dia mendekat masih dengan pisau dapur di tangan. Gleg.

"Kan kalau Abang punya dua isteri, otomatis kita juga punya dua pisau dapur. Jadi, itu pepaya di atas meja yang sedari tadi sungguh menggoda bisa Abang nikmati segera tanpa harus nunggu adek selesai masak." Aku sudah berancang-ancang untuk kabur karena bercanda yang ini terasa agak keterlaluan.


"Hahahahaha, Abang bisa aja." Dia tertawa renyah yang mengurungkan niatku untuk kabur, "gini aja ..., nih pisaunya, Abang selesaikan masak! Baru boleh ngupas dan motong pepayanya. Aku mau nonton drama korea dulu ya, Sayang."

"Ta-tapi, Dek."

"Ga ada tapi-tapian. Abang liat nasib terong tadi khan?" Dia menancap pisau ke buah pepaya ranum itu kemudian berlalu.

(hihaaa)

Senin, 26 Oktober 2015

Melati Jasmine (Sebuah Cerpen Tentang Kesetiaan)

Judul: Melati Jasmine
Oleh: Ayah Raziq


Waktu terus berlalu
tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
masih terlihat jelas
senyum terakhir yang kau beri untukku.


---
Gadis kecilku berlarian indah mengitari taman, mengejar kupu-kupu. Gaunnya putih, senada dengan melati yang ada di sekitarnya. Taman sederhana halaman rumah kami, sebagian besar ditumbuhi melati.

"Mel, hati-hati ya, Sayang ...!"

"Iya, Ayah." Ia menoleh ke arahku yang tengah duduk di bangku teras lalu tersenyum indah yang tak terlukiskan. Itu senyum ibunya, persis sekali. Aku tertegun, ingatan tentang Almarhum ibunya membuat genangan di mataku.


***
Petir bersahutan, hujan semakin lebat, namun aku terus melaju menembus hujan dan genangan air di jalanan. Di balik helm, fikiranku kalut. Bos perusahaan tempatku bekerja tertangkap tangan melakukan penyuapan terhadap oknum pejabat di lingkungan Dinas PU untuk memuluskan proyeknya. Sialnya, aku adalah orang yang mempertemukan dan memperkenalkan mereka beberapa hari sebelumnya. Kedekatan antara aku dan keduanya, membuat namaku mau tak mau dilibatkan dalam hal ini. Kabar terakhir yang kuterima, KPK telah menggeledah kantor kami dan mencariku untuk dimintai keterangan segera setelah kami semua para karyawan, memutuskan untuk pulang dan berhenti bekerja.

Jumat, 09 Oktober 2015

WALET JAMBRET (Ketika Dunia Tak Adil)



WALET JAMBRET
Ayah Raziq

Siang di depan sebuah SPBU, di persimpangan jalan lintas sumatera saat mentari sapa dunia dengan terik. Sorang pengemis pincang berjalan gontai menjinjing sebuah buntalan yang isinya masih tanda tanya, pakaiannya lusuh, tatapan datar, kosong, seakan tak peduli betapa indah pajangan isi ruko-ruko yang dilewatinya. Akh mungkin dia memang membuang kepedulian untuk itu. Satu hal yang dipedulikannya adalah ketika seorang gadis kecil menghampiri dan memberikan lembaran uang yang entah berapa jumlahnya. Indah sekali pemandangan itu, Si gadis lalu berlari kecil kearah ibunya yang baru keluar dari sebuah TOSERBA, mungkin baru selesai membeli sesuatu, si gadis tersenyum ramah dengan sedikit lesung pipit di pipi kirinya, pengemis pincang juga tersenyum sambil mulut bergerak naik turun, berterima kasih mungkin atau berdo'a entahlah.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Dilema Cinta (Fiksi Mini)



Hakikat cinta suci adalah ketulusan tiada batas, mengorbankan apa saja yang harus dikorbankan demi cinta itu sendiri.

***

"Tapi aku cinta kau dan dia."

"Tega kamu, Mas." Rena terisak menerima kenyataan cinta yang selama ini dia jaga harus terbagi dengan lain hati.

"Mengertilah, Na ... ini sudah takdir dari-Nya."

"Kamu harus memilih aku atau dia, Mas!"

Senin, 28 September 2015

Anak Sampah (Cerpen)


"Eli anak sampaaahh ... Eli anak sampaahhh," ejekan kawan-kawan sekolah Eli membuat gadis kecil yang sedikit dekil itu menangis iba di bangku kelas.

"Bu guru datang woyy, duduk cepat, duduk!" Salah seorang murid berteriak.

"Pagi anak-anak," sapa Bu Risma yang dijawab serupa oleh murid-muridnya.

"Eli, kenapa kamu?" Sang Guru tergugah melihat Eli menangis di antara teman-temannya. Eli tak menjawab, ia malah berlari keluar kelas dan tak kembali.

Sabtu, 26 September 2015

PERANG KAMPUNG (cerpen Gokil)

16:30


Bangkai-bangkai berserakan, darah berceceran di mana-mana. Beberapa laki-laki dewasa bersenjata lengkap berjalan gontai, sebagian berombongan, beberapa lainnya berjalan sendiri. Keletihan jelas terpancar dari raut wajah mereka, amarah sepertinya belum reda. Tubuh mereka berlumuran darah dan lumpur sisa pertarungan tadi.


10:15


Sabetan parang, cangkul dan tongkat bersahutan. Pekik, sorak dan sumpah serapah membahana. Suasana tercipta dengan ngeri. Sawah menjadi arena tarung, hutan di kaki bukit pinggiran kampung jadi ajang kejar-kejaran, gonggongan anjing memekakkan telinga.


07:00


Di halaman masjid kepala desa memberikan pidato:
"Bapak-bapak, sodara-sodara sekalian, kita telah sama-sama merasakan kerugian akibat hama tikus dan babi di kampung kita, hama-hama itu semakin mengganas, marilah sama-sama kita basmi mereka, bersama-sama tentu akan lebih mudah. Terima kasih atas kedatangan bapak-bapak pemburu dari desa tetangga. Dengan basmallah marilah sama-sama kita mulai perburuan hari ini.

Kamis, 24 September 2015

Dealova (cerpen)


"Bunda ... Ayah ganteng, ya?" Putri berujar setelah kami selesai shalat berjamaah, memeluk bundanya dengan manja dalam balutan mukena.

"Kalau ayahmu ndak ganteng mana Bunda mau," Viona tersenyum manis ke arahku, mendekap putrinya.

Jumat, 18 September 2015

Berandal Malam


Ini duniaku, dimana ramah adalah sampah. Adzan isya' sudah pergi dari tadi, saatnya menunjukkan pada dunia bahwa aku ada.

Trotoar ini tak pernah bosan ditapaki jejakku, jejak penista. Di atas gelindingan roda sana, napas-napas sesak menuju pulang, mungkin pulang. Di sisi lain kulihat pertokoan sudah tutup, mereka telah menyudahi cerita ini hari.

Ada tikus berlarian. Gerakannya lincah, lincah sekali. Tubuhnya gempal, perutnya buncit. Aku rasa mereka lebih lincah dan lebih buncit dari delapan tahun yang silam. Di sana ada kucing, tak bergeming, hanya memandang. Takut atau mungkin sang tikus sudah menyediakan makan malam buat mereka.

Selasa, 15 September 2015

Nasib Anak Kost (Humor)



Nasib Anak Kost

Julian: "Bang, lu liat ketupat sayur yang di meja ga, tadi sebelum mandi gua beli?"

Aziz: "Punya elu, Jul? Wah kurang ajar tu Si Wiro."

Julian: "Dia yang ngabisin?"

Sabtu, 12 September 2015

Anyir Darah Malam Pertama (Thriller)


"Lalu bagaimana dengan janji-janji kita, Bang?"

"Orang tuaku, Dek."

"Lantas, Abang menyerah?"

"Percayalah ... hati abang hanya untukmu, Dek."

Itulah percakapan terakhirku dengan Bang Rusdi.

***
Hari ini seisi kampung geger dengan ditemukannya dua mayat di kamar pengantin, di atas ranjang, dan berpelukan. persis pagi hari setelah pesta penikahan.

'Santi, Bang Rusdi sudah menjadi milikku dan akan kubawa serta kemanapun aku 'kan pergi. Ini aku tinggalkan apa yang sudah menjadi milikmu.'

Sebuah surat tertuju untukku. Berdarah-darah, tertancap dengan sebuah paku di dinding bersama sebuah organ tubuh. 'Hati'.
(glek)

Selasa, 08 September 2015

Cinta Sekantong Kresek (Romantis)


Aku bukanlah pencinta ulung. Pacaran tidak pernah menjadi agenda dalam perjalanan hidup ini. Bagiku, jodoh pasti bertemu di saat dan tempat ketika sudah semestinya bertemu.

***
"Di sini kosong, Bang?" Sebuah suara wanita muda membangunkanku dari tidur.

"Ohh iya, Dik ... silakan!" Aku menjawab seadanya. Menggeser sedikit tubuhku, lalu melanjutkan tidur.

Senin, 07 September 2015

PERANG KAMPUNG (humor)



16:30
Bangkai-bangkai berserakan, darah berceceran di mana-mana. Beberapa laki-laki dewasa bersenjata lengkap berjalan gontai, sebagian berombongan, beberapa lainnya berjalan sendiri. Keletihan jelas terpancar dari raut wajah mereka, amarah sepertinya belum reda. Tubuh mereka berlumuran darah dan lumpur sisa pertarungan tadi.

10:15
Sabetan parang, cangkul dan tongkat bersahutan. Pekik, sorak dan sumpah serapah membahana. Suasana tercipta dengan ngeri. Sawah menjadi arena tarung, hutan di kaki bukit pinggiran kampung jadi ajang kejar-kejaran, gonggongan anjing memekakkan telinga.

07:00
Di halaman masjid kepala desa memberikan pidato:

"Bapak-bapak, sodara-sodara sekalian, kita telah sama-sama merasakan kerugian akibat hama tikus dan babi di kampung kita, hama-hama itu semakin mengganas, marilah sama-sama kita basmi mereka, bersama-sama tentu akan lebih mudah. Terima kasih atas kedatangan bapak-bapak pemburu dari desa tetangga. Dengan basmallah marilah sama-sama kita mulai perburuan hari ini.

Sabtu, 05 September 2015

Senja di Teras (humor)



-Senja Di Teras-

Aku sedang duduk di kursi teras saat percakapan dengan lawan bicara di seberang telpon tiba-tiba terhenti.

Coba kuulangi lagi menelpon, suara wanita menyapa dengan lembut yang kuyakin samar-samar terdengar jarak beberapa meter. Istriku yang tengah menyapu rumah sampai di teras.
"Suara kamu seksi banget, sih? Jadi pengen ketemu," suaraku setengah berbisik, "eh, sudah ya! Ada istriku nih," masih dengan berbisik lalu menutup telpon.

"Nelpon siapa, Pah?" tanya istriku dan menatap marah, "sinikan hp-nya cepat."

"Bukan siapa-siapa, Mah."

"Siniiii ...." Ia merampas hp-ku dan tanpa pikir-pikir atau melihat layar segera melakukan panggilan ulang.
Panggilan langsung terhubung.

"Hey kau wa ...," omelannya terhenti saat mendengar suara wanita di seberang telpon.

"Pulsa kartu pra-bayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Segera lakukan pengisian ulang."

GUBRAAK, sapu melayang kearahku.

Magrib at the Kost (Horor)


"Astagfirullah! Bikin kaget saja kamu, Al."
Sebuah lemparan bola sepak mendarat tepat di pelukan Firman yang baru saja pulang kuliah. Aldo yang bersembunyi di samping lemari pakaian kamar kost Firman dan Yudi tertawa geli.

"Ahahahaha ... main bola di lapangan yuk, Bang," ajak Aldo, bocah dua belas tahun, anak pemilik kost.

"Abang capek, Al! Banyak tugas. Lagian ini kan sudah hampir magrib, ga baik main dekat kuburan."

"Abang penakut ah, aku main sendiri aja."

"Terserah kamu, tapi jangan sampai magrib betul pulangnya."