Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2016

KEMARAU

Kemarau.
A R
Ceritakan padaku, ada apa dengan pilu?
Mengapa dunia membakar hari, hingga nyeri di sanubari?
Adakah insan merampas damai penghuni ngarai
Atau langit mungunduh murka di wajah pendosa
Lihatlah kawan;
Embun tak lagi basah, ada bara di selaselanya
Rumput sudah lelah, menunggu mega bermurah durja
Tanah basah oleh dedo'a, malaikat diam saja
Hujan menunggu apa? Penat bumi menghiba.
Aku pun demikiam, Kawan
Tersungkur di sudut takdir
Mengais remah asa yang tersisa
Menghardik ke nurani yang nyaris kerontang dengan sejuta kenangan
Merindu hujan membasahi nelangsa.
Ohh
Ternyata aku harus bersyukur
berteman dengan bumi menunggu hujan
Berteman dengan langit menanti bahagia.
Aku, bumi dan langit bersatu dalam rindu.
Riau
Kini

Minggu, 01 November 2015

Sebuah Tanya Terjawab Cinta

Sebuah tanya terjawab cinta
A R


Jamah langitku jika kau ragu
bakar telagaku jika aku membatu
panah tembok itu agar tercurah isinya.

Kadang ...
dingin subuh tak terbaca olehku

atau ...
terlempar dalam api tak bermakna.

Bermainlah kembali isi mimpi
katup bibir agar aksara buta ku mengerti
jadilah salju sekali-sekali
bukankah mentari kita genggam erat pasti.

Karena, sebuah tanya terjawab cinta.


P K U
010115

Hujan Pagi Ini
A R

Kupahat prasasti di kisaran sunyi
membuang jauh baitbait sendu.
iya, tawaku sumbang lalu
tiada tangis lagi yang mampu kudendang
hanyut bersama kenangan.

Laksana dedaunan dibasahi hujan
damai nian 'kan terasa
haru aduhai syahdu
hanyutlah sukma ke daratan bahagia.

Di sini aku damai
di bawah dedaunan dibasahi hujan.


Riau
020615

Selasa, 20 Oktober 2015

Sumpah Serapah Belantara



SUMPAH SERAPAH BELANTARA
Ayah Raziq

Akankah tiada hutan lagi yang dengan cucuku kelak akan kuajak dia ke sana? Mungkin hanya akan kubelikan lukisan.

Beruntunglah aku sedikit bisa bersahabat dengan hutan. Dengarkan merdu suara aneka burung yang aku tak kenal namanya, meneguk segarnya air dari celah bebatuan, hirup sejuk udara lansung di bawah hasil proses fotosintesis, dan cemas akan kehadiran penguasa-penguasa belantara. Hingga sampailah aku di suatu puncak dimana cakrawala dan mega-mega nyaris bisa kugapai. Betapa maha agungnya engkau dengan segala ciptaan mu duhai Rabb-ku.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Selamat Datang di Nusantara 6 Abad Silam (Puisi Essay)

SELAMAT DATANG DI NUSANTARA 6 ABAD SILAM
Ayah Raziq


Selamat datang di Nusantara para saudagar
dari jauh tuan berlayar
semoga letih penat di sini terbayar
mari saya hantar.

Minggu, 27 September 2015

Remang Remang Puisi (Puisi Keren Karya Lim Pratama)


REMANG REMANG PUISI
Lim Pratama


Dagu simpuh kaki menganga
Di intip cawet diksi kemolekan
; di sana!
Para perempuan di etalase
Payudaranya di hanger
Nafsunya di bandrol
Tunggu tangan lelaki merogoh kocek

Senin, 21 September 2015

Terlantar Duka Menampar Iba (puisi)




-Terlantar Duka Menampar Iba

Salam panas kotaku
di ujung jauh
di lembah kehidupan ini
dua sisi membelit sang nasib
berjibaku menyeret kaki tersembilu

Rabu, 09 September 2015

Dunia Sampah (Puisi)



DUNIA SAMPAH
A R

Panggil aku PEMULUNG
Dibesarkan oleh kardus, botol, plastik dan besi karatan
bedakku debu
parfumku bau
bajuku pilu.